Bisnis USAHA PERCETAKAN TANPA MODAL

 KIAT USAHA PERCETAKAN TANPA MODAL

Pada waktu SMA kelas II saya jualan. Waktu itu barang-barang yang saya jual semuanya tidak menggunakan modal. Seperti halnya pada saat jualan baju, sepatu, kopi gula, dll, pada waktu itu kebetulan ada teman yang minta tolong untuk menjualkan barang-barang tersebut. Ya namanya juga menjualkan barang punya orang, tentu saja untungnya sangat sedikit.

Hikmah ketempuhan. Lama kelamaan kondisi itu membuat saya jenuh. Selain karena untungnya kecil, waktu saya juga sangat terbatas, karena malam hari sepulang bekerja harus pergi kuliah. Dengan demikian waktu untuk berdagang nyaris tidak ada.

Di tempat bekerja setiap tahunnya selau mencetak brosur. Suatu saat pihak percetakan yang kami percayai ‘menghilang’ begitu saja. Pihak kantor menyerahkan sepenuhnya kepada saya, walaupun (biasalah) ada saja yang bernada miring mengenai order di kantor saya ini.

Wah, ketempuhan neh! Tapi biarlah, saya pikir ini ada hikmahnya. Sejak itu saya mulai bertanya-tanya mengenai percetakan dari Nol. Waktu itu saya hanya membawa file hasil desain saya, dengan kondisi ukuran desain yang sama sekali tidak presisi, yang penting asal beres saja. Dengan belum adanya pengalaman, tentu banyak yang menertawakan saya ketika ditanya oleh pihak percetakan, “Mana plate atau Film-nya Pak?” dan saya menjawabnya dengan kata-kata, “Tidak tahu Pak!”

Saya benar-benar tidak tau pada saat itu. Akhirnya saya diberitahu mulai dari proses awalnya. Mulai dari mendesain, area cetak, membuat film, membuat plate, hingga proses mencetak dan memotong bahkan finishing lainnya seperti emboss, poil, UV, Spot UV, Pond dan lain-lain yang berkenaan dengan percetakan.

Pernah Rugi. Order pertama memang untungnya tidak seberapa, bahkan pernah mengalami rugi juga. Karena dari sebuah kesalahan, bisa berakibat fatal dalam percetakan. Ukuran desain produk berpengaruh terhadap jumlah produk cetak untuk setiap 1 plano-nya. Kesalahan pada ukuran desain juga bisa berdampak pada proses cetak, misalnya dalam penentuan jenis mesin cetak, karena setiap mesin cetak biaya cetaknya berbeda-beda. Persaingan percetakan yang kian ketat mengakibatkan harga sebuah produk cetak makin bersaing pula. Maka dalam bidang apa-pun sebaiknya ketelitian sangat diutamakan. Terlebih dalam bidang percetakan, sebuah produk yang tidak bisa diralat di tengah proses produksi, kalau keuntungan tidak sampai beberapa kali lipat dan terjadi kesalahan, maka biaya penggantian atas kesalahan percetakan harus dimulai dari awal lagi, dan itu biayanya besar sekali.

Tanpa Modal . Dengan kebiasaan dan pengalaman mendapat order sedikit apapun, lama-lama saya sedikitnya bisa ‘terbentuk’ sebuah ‘pola’ atau ‘gaya bisnis’, atau pada saat transaksi menentukan harga, cieeeee. Berdasarkan pengalaman, saya sarankan sebaiknya untuk bisa mempelajari dulu segala biaya-biaya yang diperlukan untuk sebuah proses produksi percetakan, hingga akhirnya bisa menentukan harga satuan produknya. Dengan demikian kita bisa menentukan besar biaya Uang Muka Minimal yang harus dibayar kepada kita. Ingat, usahakan besar biaya itu harus sudah bisa menutupi hingga akhir proses cetak. Misalnya harga bahan (kertas), film, plat dan proses cetak harus sudah ter-cover oleh Uang Muka tadi, sehingga pada saat pembayaran berikutnya Anda tinggal menikmati keuntungan (laba), itu yang selama ini saya lakukan.. dan walaupun misalnya si konsumen tiba2 membatalkan karena sesuatu hal yang masuk akal (atau atas hasil keputusan kedua belah pihak), kita pun tidak rugi.

Mau Penghasilan Melalui Usaha Percetakan? Bahkan Tanpa Modal Sekalipun..?

 
 
 
 
 
 
 
undangangrosir.com
Flag Counter Pilihan Bahasa